LANDASAN FILOSOFIS KURIKULUM
![]() |
Resume Diajukan
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Pada Mata Kuliah Pengantar Kurikulum Jurusan
Tarbiyah Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Kelompok V Semester IV
Oleh:
Wahyudi
SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
WATAMPONE
|

PEMBAHASAN
A. Pengertian Kurikulum Dan Fisafat Pendidikan
Kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk
mencapai tujuan pendidikan, karena tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh
filsafat atau pandangan hidup suatu bangsa, maka tentu saja kurikulum yang
dikembangkan juga untuk mencerminkan falsafah/pandangan hidup yang dianut oleh
bangsa tersebut oleh karena itu terdapat hubungan yang sangat erat antara
kurikulum pendidikan di suatu negara dengan filsafat negara yang dianutnya.
Sebagai contoh, Indonesia pada masa penjajahan Belanda, kurikulum yang dianut
pada masa itu sangat berorientasi pada kepentingan politik Belanda. Demikian
pula pada saat negara kita dijajah Jepang, maka orientasi kurikulum berpindah
yaitu disesuaikan dengan kepentingan dan sistem nilai yang dianut oleh negara
Matahari Terbit itu. Setelah Indonesia mencapai kemerdekaannya, dan secara
bulat dan utuh menggunakan pancasila sebagai dasar dan falsafah dalam berbangsa
dan bernegara, maka kurikulum pendidikan pun disesuaikan dengan nilai-nilai
pancasila itu sendiri.
Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan
dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat
pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan
kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum
membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil
pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak
didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan
pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap
kegagalan proses pengembangan manusia
Pengembangan kurikulum walaupun pada tahap awal
sangat dipengaruhi oleh filsafat dan ideologi negara, namun tidak berarti bahwa
kurikulum bersifat statis, melainkan senantiasa memerluka pengembangan,
pembaharuan dan penyempurnaan disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan dan
perkembangan zaman yang senantiasa cepat berubah.
Filsafat pendidikan berupaya mengkaji berbagai
permasalahan yang dihadapai manusia, termasuk masalah pendidikan.
Pendidikan sebagai ilmu terapan, tentu saja memerlukan ilmu-ilmu lain sebagai
penunjang, di antaranya filsafat. Filsafat pendidikan pada dasarnya adalah penerapan
dan pemikiran-pemikiran filosofis untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Sedangkan secara harfiah filosofi (filsafat) berarti
“cinta akan kebijan”. Orang yang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang
mengerti akan kebijakan dan berbuat secara bijak, ia haruus tahu atau
perpengetahuan. Pengetahuan diperoleh melalui proses berfikir, yaitu berfikir
secara sistematis, ‘logis dan mendalam. Pemekiran demikian dalam filsafat
sering disebut sebagai pemikiran radikal, atau berfikir sampai keakar-akarnya.
Berfilsafat diaritikan pula berpikir secara radikal, berfikir sampai keakar.
Secara akademik, filsaf berarti upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu
pandangan yang sistematis dan komprehensif tentang alam semesta dan kedudukan
manusia didalamnya. Filsafat mencakup keselurhan pengetahuan manusia, berusaha
melihat segala yang ada ini sebagai satu kesatuan yang menyuluruh dan mencobah
mengetahui kedudukan manusia di dalamnya. Sering dikatakan bahwa filsafat
merupakan ibu segala ilmu.
Filsafat pendidikan pada dasarnya adalah
penerapan dari pemikiran-pemikiran filsafat untuk memecahkan permasalahn
pendidikan. Dengan demikian tentu saja bahwa filsafat memiliki manfaat dan
memberikan kontribusi yang besar terutama dalam memberikan kajian sistematis berkenaan
dengan kepentingan pendidikan. Menurut Nasution (1982) mengidentifikasi
beberapa manfaat filsafat pendidikan, yaitu:
1.
Filsafat pendidikan dapat
menentukan arah akan dibawa ke mana anak-anak melalui pendidikan di sekolah?
Sekolah adalah suatu lembaga yang didirikan untuk mendidik anak-anak ke arah
yang dicita-citakan oleh masyarakat, bangsa dan negara.
2.
Dengan adanya tujuan pendidikan
yang diwarnai oleh filsafat yang dianut, kita mendapat hambaran yang jelas
tentang hasil yang harus dicapai.
3.
Filsafat dan tujuan pendidikan
memberi kesatuan yang bulat kepada segala usaha pendidikan.
4.
Tujuan pendidikan memungkinkan si
penduduk menilai usahanya, hingga manakah tujuan itu tercapai.
5.
Tujuan pendidikan memberikan
motivasi atau dorongan bagi kegiatan-lkegiatan pendidikan.
B. Landasan Filosofis
Landasan Filosofis,
yaitu asumsi asumsi tentang hakikat realitas, hakikat manusia, hakikat
pengetahuan, dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan
kurikulum. Asumsi-asumsi filosofis tersebut berimplikasi pada rumusan tujuan
pendidikan, pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan strategi, serta
pada peranan peserta didik dan peranan pendidikan
Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum
ialah pentingnya rumusan yang didapatkan dari hasil berpikir secara mendalam,
analisis, logis, sistematis dalam merencanakan, melaksanakan, membina dan
mengembangkan kurikulum baik dalam bentuk kurikulum sebagai rencana (tertulis),
terlebih kurikulum dalam bentuk pelaksanaan di sekolah.
Filsafat
memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam
Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti: perenialisme,
essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam
pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran–aliran filsafat
tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum
yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati, di bawah
ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya
dengan pengembangan kurikulum.
1.
Perenialisme lebih
menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan
budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan
kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini
menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada
tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
2.
Essensialisme menekankan
pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada
peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika,
sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi
kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme,
essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
3.
Eksistensialisme menekankan
pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk
memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini
mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ?
4.
Progresivisme menekankan
pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik,
variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi
pengembangan belajar peserta didik aktif.
5.
Rekonstruktivisme merupakan
elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban
manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan
individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan
tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan
mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan
sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Aliran
Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran
filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum
Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi
pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat
rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum
Interaksional.
Ada tiga
cabang besar filsafat, yaitu metafisika
yang membahas segala dalam alam ini, epistemologi
yang membahas kebenaran, akseologi yang
membahas nilai. Aliran-aliran filsafat yang kita kenal bertolak belakang dari
pandangan yang berbeda kedalam tiga hal ini.
Filsafat
membahas segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia termasuk
masalah-masalah pendidikan yang disebut filsafat pendidikan. Walaupun dilihat
sepintas, filsafat pendidikan hanya merupakan aplikasi dari pemikiran-pemikiran
filosofis untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan, tetapi antara keduanya
yaitu antara filsafat dan filsafat pendidikan terdapat hubungan yang sangat
erat.
Masing-masing
aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena
itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung
dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan
berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat
ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi
pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih
menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.
Daftar Pustaka
Ansyar, Mohammad dan Nurtei. Pengembangan
dan inovasi kurikulum. Bandung :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan & Dirjen Dikti. 1993.
Karyadi, Benny dan Ibrahim. Pengembangan 0inovasi dan kurikulun modol
1-6. Jakarta : Universitas Terbuka, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. 1996.
Depdiknas. Standar
Kompetensi Bahan Kajian; Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Jakarta: Puskur Balitbang. 2003.
Syadodih,
Sukmadina Nana. Pengembangan kurikulum,
teori dan praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1997

Tidak ada komentar:
Posting Komentar